Rabu, 17 Agustus 2022

Breaking News

  • Solar Langka, Polda Riau Tangkap 18 Penimbun BBM Subsidi   ●   
  • Sambut Kunjungan TLCI Jambi, HM Marwan: Riau Siap Dukung Jambore Nasional TLCI ke-V Tahun 2023   ●   
  • HUT Ke-77 RI, Gubernur Riau Lakukan Apel Kehormatan dan Renungan Suci   ●   
  • Ditlantas Polda Riau Luncurkan Aplikasi Enam Pelayanan Publik   ●   
  •   ●   
Warga Riau Berharap Pemprov Bangun Instalasi Kedokteran Nuklir di RSUD AA
Jumat 08 Juli 2022, 15:06 WIB
ilustrasi

PEKANBARU - Mengingat manfaat dan efektivitasnya di dunia kesehatan, keilmuan kedokteran nuklir semakin banyak dimanfaatkan terutama dalam mendiagnosa dan pengobatan beberapa penyakit, seperti kanker, jantung, gangguan ginjal, gangguan tulang sendi dan lain sebagainya. Sejumlah warga Riau juga sudah memanfaatkan teknologi ini dalam mengobati sejumlah penyakit yang dideritanya. Karena itu warga berharap agar Pemerintah Provinsi Riau segera membangun fasilitas Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit Umum Daerah  Arifin Ahmad (RSUD AA) Pekanbaru, sehingga tak perlu lagi berobat ke Jakarta atau Bandung.

Mira Ari Yanti (37), Warga Bangkinang Kabupaten Kampar kepada media ini mengungkapkan, dia sudah dan sedang menjalani pengobatan Kedokteran Nuklir di RSHS Bandung. Setelah pengobatan tahun 2021 lalu dia masih harus melakukan kontrol di tahun 2022 ini. Diungkapkan untuk kontrol pada periode tertentu dia harus mengeluarkan biaya yang banyak untuk transportasi dan akomodasi selama di Kota Bandung.

"Kita berharap agar Pemprov Riau segera membangun instalasi kedokteran Nuklir di RSUD AA Pekanbaru. Jika di Ibukota Provinsi Riau ada fasilitas Kedokteran Nuklir tentu kita akan lebih mudah dalam menjalani pengobatan. Harapan ini tentunya juga menjadi permohonan puluhan pasien asal Riau yang menjalani pengobatan Kedokteran Nuklir," katanya.

Harapan yang sama juga disampaikan Abdul Wadud (57) Warga Ujung Batu Kabupaten Rokan Hulu, pasien lainnya yang sudah memanfaatkan pengobatan Kedokteran Nuklir di RSHS Bandung. Dia mengungkapkan pengobatan dengan Kedokteran Nuklir terasa banyak manfaatnya, karena itu Pemprov Riau harus segara membangun Instalasi Kedokteran Nulir di RSUD AA.

"Saya mendengar perencanaan pembangunan Instalasi Kedokteran Nuklir sudah dilakukan sejak lama tetapi sampai saat ini belum tampak progresnya. Saya berharap agar Pemprov Riau di bawah kepemimpinan Gubri Drs.H. Syamsuar, M.Si segera merealisasikannya. Ini saya pastikan sangat bermanfaat bagi masyarakat Riau, sehingga tak perli jauh-jauh berobat ke Pulau Jawa," katanya.

Abdul Wadud menceritakan, dia menjalani pengobatan Kedokteran Nuklir di Bandung akhir 2021 lalu dan harus kontrol lagi sekali enam bulan. Diceritakan pengobatan warga Riau di RSHS Bandung difasilitasi dokter asal Pekanbaru yakni Dokter Muhammad Aulia Prima yang merupakan salah satu calon Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir yang sedang menimba Ilmu di Kota Bandung yang Insya Allah awal tahun 2023 telah kembali ke Pekanbaru, Riau

Dr. Muhammad Aulia Prima, saat dihubungi media ini mengungkapkan, warga Riau semakin banyak memanfaatkan Kedokteran Nuklir untuk mendiagnosis serta menyembuhkan penyakit yang dideritanya terutama kanker tiroid. Dikatakan selama ini warga Riau melakukan pengobatan Kedokteran Nuklir di Jakarta, Bandung atau Kota lainnya di Pulau Jawab. "Kita membantu memfasilitasi warga Riau yang melaksanakan Pengobatan Kanker Tiroid di Kedokteran Nuklir di RSHS Bandung karena harus diberikan jadwal dan persiapan-persiapannya (karena jadwal tunggu utk terapi kanker tiroid bisa mencapai 6 bulan), dan ternyata pasien di Riau banyak sekali yang bisa di rujuk ke Kedokteran Nuklir Bandung tetapi pemilihan pasien yg dikatakan "mampu" yg dapat datang ke Bandung, Bagaimana dengan sisanya? Walaupun semua tindakan di Kedokteran Nuklir itu ditanggung oleh BPJS Kesehatan, namun pasti ada biaya akomodasi, transportasi, serta konsumsi jg selama di bandung yang ditanggung sendiri, namun jika fasilitas yang sama dibangun di Riau terutama RSUD AA Pekanbaru tentunya akan memudahkan warga, apalagi membangun instalasi itu biayanya juga tak terlalu besar(mulai dari bangunan hingga alat2 yg dibutuhkan)," katanya.

Dokter asal Kota Pekanbaru ini memaparkan, Kedokteran Nuklir merupakan suatu spesialis kedokteran yang menggunakan energi radiasi terbuka dari inti nuklir untuk menilai fungsi suatu organ, mendiagnosis, follow up terapi, hingga mengobati beberapa penyakit.
 
Pada prosedur diagnostik di Kedokteran Nuklir, sinar gamma digunakan karena memiliki jarak penetrasi ruang panjang, sehingga dapat menembus jaringan tubuh manusia yang akan direkam distribusinya di dalam tubuh dengan menggunakan kamera yang disebut kamera gamma. Alat kamera gamma tidak menghasilkan radiasi, tetapi yang memancarkan radiasi adalah pasien itu sendiri yang berasal dari obat yang diberikan. Obat radioaktif yang digunakan adalah dengan dosis radioaktivitas yang sangat rendah untuk mendapatkan tingkat akurasi yang tinggi atau yang disebut ALARA (As Low As Achievable)
 
"Pemeriksaan kedokteran nuklir banyak membantu dalam menunjang diagnosis berbagai penyakit. Seperti pada penyakit jantung dapat dilakukan pemeriksaan Sidik Perfusi Miokard (SPM) untuk mengetahui gangguan aliran darah otot jantung yang membantu dalam penegakkan penyakit jantung koroner dan infark miokard. Juga pemeriksaan Multigated Heart Blood Pool Scan (MUGA) guna menilai fraksi ejeksi ventrikel kiri jantung. Sidik Kelenjar Gondok (SKG) dan Uji Uptake Tiroid untuk mengetahui fungsi dan kelainan / patologis kelenjar gondok/tiroid. Mengevaluasi fungsi ekskresi (filtrasi), reabsorbsi serta eksresi ginjal menggunakan Pemeriksaan Laju Filtrasi Glomerulus (GFR) dan Pemeriksaan Renografi. Ada pula Pemeriksaan Sidik Tulang (Bone Scan) yang dapat memperlihatkan metastase (penyebaran) kanker pada tulang serta dapat mengidentifikasi kelainan yang terjadi pada tulang-tulang di tubuh, dan masih banyak lagi yang dapat diperoleh dari diagnosis dengan penerapan teknologi kedokteran nuklir yang pada saat ini berkembang pesat. Kurang lebih terdapat 35 jenis pelayanan diagnostik rawat jalan," katanya.
 
Sedangkan untuk pelayanan terapi Kedokteran Nuklir dapat membantu pasien karsinoma tiroid pasca operasi pengangkatan kelenjar gondok/tiroid dengan mengablasi/menghancurkan sisa-sisa kanker dan mencegah kekambuhan kembali dengan tingkat keberhasilan mencapai 90 persen. Pasien hipertiroid dan Grave’s Disease juga dapat diterapi menggunakan Iodium-131. Serta Terapi Paliatif untuk nyeri tulang akibat metastasis tulang menggunakan Samarium-153 sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
 
Dr. Muhammad Aulia Prima menambahkan, dalam praktiknya pada pengobatan kanker, keilmuan Kedokteran Nuklir berperan untuk mencari dan memetakan lokasi keberadaan sel kanker dan penyebarannya. Sementara penanda dari zat nuklir berperan sebagai penghantar zat obat untuk membunuh sel-sel kanker pada area target yang spesifik.

"Beberapa prosedur yang akan dilalui,  yang pertama kali, dilakukan sebelum menjalani terapi ialah pasien menjalani pencitraan tubuh untuk mendeteksi keberadaan atau lokasi sel kanker, yang kedua kemudian dokter akan mempersiapkan jenis dan dosis obat radiofarmaka (obat yang mengandung senyawa radioaktif) yang tentunya disesuaikan dengan kondisi pasien. Nah setelah pasien dinyatakan siap, obat tersebut kemudian bisa dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Dalam beberapa menit obat ini bereaksi menuju sel kanker yang telah dideteksi sebelumnya. Terapi ini berlangsung dalam beberapa menit dan tidak menyakitkan sama sekali," paparnya.

Selama diterapi, pasien akan di tempatkan di suatu ruangan khusus dan menjalani rawat inap di rumah sakit sehingga tidak membahayakan orang lain hingga paparan radiasi yang berada di bawah batas wajar. Selama di ruang rawat inap pasien juga diharuskan memakai masker atau pelengkap pelindung lainnya yang bisa menghalangi radiasi mempengaruhi bagian tubuh yang lainnya. Namun, bahan radiasi tersebut sebenarnya akan secara alami dikeluarkan melalui keringat, urine, maupun feses. Itulah sebabnya pasien disarankan memperbanyak asupan cairan serta makanan selama menjalani pemeriksaan kedokteran nuklir

Di lain sisi, pada pasien kanker tiroid radiofarmaka yg diberikan kepada pasien dapat ditargetkan khusus hanya menyasar area yang lebih spesifik. Jadi, dosis obat yang digunakan dapat langsung menghancurkan sel kanker, tanpa harus merusak jaringan yang sehat dan normal disekitarnya. Terapi ini cukup efektif untuk mengatasi sel tumor ganas(terutama tiroid dan prostat) dan penyebaran sel kanker dimanapun sel tersebut berada," pungkasnya. (sp)




Editor :
Kategori : Pro Riau
Untuk saran dan pemberian informasi kepada katariau.com, silakan kontak ke email: redaksi.katariau@gmail.com


Komentar Anda
Berita Terkait
 
 
Berita Pilihan
Sabtu 12 Februari 2022
HPN 2022, Jangan Ada Lagi Kriminalisasi Terhadap Pers

Jumat 11 Februari 2022
Rakernas PHRI II, ini kata Epyardi Asda :"Kedepannya Sumatera Barat Lebih Baik Lagi Dalam Menggerakkan Sektor Pariwisata".

Kamis 10 Februari 2022
Pendampingan ADM Penyelenggaraan Keuangan Desa oleh Tim Monev Kabupaten Solok

Rabu 09 Februari 2022
MOI Solok Resmi Mendaftar Kekesbangpol Kabupaten Solok, Yasri Irva :"MOI Siap Kawal Pemerintah".

Rabu 09 Februari 2022
Masalah Natuna, Alirman Sori : "Perkuat Keamanan Perbatasan Laut"

Rabu 09 Februari 2022
Dua Hari Lagi Shalat Jum'at Perdana di Masjid Asam Jao, Almito S.Pt : Mari Kita Ramaikan

Senin 07 Februari 2022
JUSUF RIZAL: KSPSI PERLU MELAKUKAN REENGINERING ORGANISASI HADAPI PERUBAHAN

Sabtu 05 Februari 2022
Masjid Ikhlas Asam Jao diresmikan, Gubernur Sumbar :

Jumat 14 Januari 2022
Berikan Penyuluhan ke PPL, Faperta UIR Teken MOA dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Dumai

Senin 29 November 2021
Hadirkan 7 Narasumber, Forum Pembauran Kebangsaan Riau Gelar Rakor Penguatan Organisasi

Copyrights © 2020 All Rights Reserved by PT. KATA RIAU MEDIA
Scroll to top