Selasa, 27 Oktober 2020

Breaking News

  • FPK Riau Sampaikan Pernyataan Sikap Terkait UU Cipataker   ●   
  • FPK Riau Sampaikan 7 Pernyataan Sikap Terkai UU Cipataker   ●   
  • Ini Cara LPPMS Lahirkan Bibit Potensial di Bbidang Kecantikan   ●   
  • FKPMR Apresiasi Kapolda Riau Cepat Tanggap Terhadap Pernyataan Sikap Forum Terkait Demo   ●   
  • Tidak Ada Titik Temu Buruh dan Pengusaha Industri, Nasib Buruh Terus Terpinggirkan   ●   
Peran Jalur Sutra Dalam Penyebaran Islam
Rabu 07 Maret 2018, 14:09 WIB

Jalur Sutra memiliki peran penting dalam penyebaran Agama Islam. Tidak hanya di Asia, Islam tersebar  ke berbagai penjuru dunia.

Berawal dari berdirinya Dinasti Umayyah pada 661 di Damaskus, bangsa Arab mulai memperluas pengaruh Islam hingga ke Pakistan di sebelah timur dan Andalusia (Spanyol) di sebelah barat. Kemudian, sejak 750, dinasti-dinasti Islam yang didirikan oleh bangsa Arab dan non-Arab semakin memperkuat pengaruh Islam di Asia Tengah, Afrika Utara, dan Asia Kecil.

"Lewat Jalur Sutra, Islam menyebar hingga ke bagian paling timur wilayah Kekaisaran Tang di Cekungan Tarim, dan selanjutnya menyeberang ke sungai Indus di anak benua India," ungkap sejarawan dari Universitas Hawaii AS, John D Szostak, dalam karyanya The Spread of Islam Along the Silk Route.

Menurutnya, Islamisasi di Asia lewat Jalur Sutra sebenarnya sudah dimulai sejak awal abad kedelapan. Mulanya penduduk yang mendiami daerah-daerah yang dilalui jalur tersebut masih menganggap Islam sebagai "agama Arab". Namun, persepsi itu perlahan-lahan mulai berubah seiring menyatunya Islam dengan kebudayaan masyarakat setempat.

Pada pertengahan abad kedelapan, kaum Muslimin praktis menguasai bagian barat Jalur Sutra. Perdagangan pun menjadi faktor utama kedua dalam penyebaran Islam, setelah penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Muslim.

Selama abad pertengahan, para pedagang Muslim pergi merantau hingga ke ibu kota Dinasti Tang, Chang-an, dan kota-kota lainnya di wilayah Kekaisaran Cina. Sebagian dari mereka ada yang kembali ke kampung halamannya masing-masing begitu kegiatan perdagangan mereka selesai. Namun, tidak sedikit pula dari kaum Muslimin yang memilih menetap di wilayah yang telah disediakan Pemerintah Cina untuk mereka.

Szostak mengungkapkan, Kaisar Tang memberikan tanah yang luas di pinggiran barat Cina untuk tentara Muslim sebagai imbalan atas bantuan mereka dalam menumpas Pemberontakan An Shi pada 757. "Tidak hanya itu, 50 tahun berikutnya Dinasti Tang juga mengizinkan kaum Muslimin untuk menetap Yunnan (wilayah selatan Cina)," ujarnya.

Pada masa-masa selanjutnya, banyak pria Muslim yang menikahi perempuan Tionghoa dan melahirkan generasi Islam baru di Cina. Peristiwa ini menjadi sejarah awal pembentukan komunitas Muslim asli Tionghoa atau yang sekarang dikenal dengan sebutan suku Hui. Sumber:republika.(kt10)



Editor : kt10
Kategori : Religi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada katariau.com, silakan kontak ke email: redaksi.katariau@gmail.com


Komentar Anda
Berita Terkait
Berita Pilihan
Selasa 13 Oktober 2020
Ini Cara LPPMS Lahirkan Bibit Potensial di Bbidang Kecantikan

Jumat 09 Oktober 2020
Tidak Ada Titik Temu Buruh dan Pengusaha Industri, Nasib Buruh Terus Terpinggirkan

Jumat 09 Oktober 2020
Donasi Noah Untuk Crew Band Indonesia

Jumat 09 Oktober 2020
Ratu Meta Kenalkan Goyang Hanpon

Jumat 09 Oktober 2020
Provinsi Sulawesi Utara Perlu Waspada Dengan Potensi Megathrust

Jumat 09 Oktober 2020
Apresiasi Doni Monardo Pada Upaya Pengendalian COVID-19 di Sulawe

Selasa 06 Oktober 2020
Pemain Sinetron Cinta Tapi Benci Gelar Meet And Greet Dengan Fans di Surabaya

Sabtu 03 Oktober 2020
Pop Academi Indosiar Siapkan Talent Industri Musik Tanah Air

Sabtu 03 Oktober 2020
Musisi dan Pesinetron Ini Jadi Distributor Kecantikan, Kesehatan

Sabtu 03 Oktober 2020
Ketua Baznas Ajak Masyarakat Lestarikan Batik Perajin

Copyrights © 2020 All Rights Reserved by PT. KATA RIAU MEDIA
Scroll to top