Waspadai Cuaca Ekstrem Perairan Sumbar
Jumat, 29/09/2017 - 17:23:20 WIB
ilustrasi
ilustrasi

PADANG - Masyarakat diminta mewaspadai cuaca ekstrem di Perairan Sumatra Barat dalam tujuh hari kedepan. Termasuk Mentawai, masuk dalam daerah yang diprediksi akan terimbas cuaca ekstrem.

Peringatan dini ini dikeluarkan melalui Maklumat Pelayaran nomor 96/IX/Dn-17 tanggal 25 September 2017 yang disampaikan Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Maklumat Pelayaran yang ditandatangani oleh Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Marwansyah, tersebut ditujukan untuk seluruh Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Kepala Kantor Pelabuhan Batam, Kepala Kantor Unit Penyelenggaran Pelabuhan (UPP), dan Kepala Pangkalan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) serta Kepala Distrik Navigasi di seluruh Indonesia.

Marwansyah menyebutkan, berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi Kimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 24 September 2017, diperkirakan hingga 30 September 2017, cuaca ekstrem dengan tinggi gelombang 2,5 hingga 4 meter dan hujan lebat akan terjadi di beberapa wilayah.

"Di antaranya di perairan laut Andaman, Sumatera Barat, Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu, Pulau Enggano, perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, perairan selatan Pulau Jawa, Bali, dan NTB," jelas Marwansyah dalam keterangannya, Kamis (28/9) dilansir republika.

Marwansyah mengingatkan untuk seluruh pemangku kepentingan yang memanfaatkan transportasi laut untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut. Ia mendesak seluruh kepala UPT melakukan beberapa tindakan preventif.

Pertama, lanjutnya, melakukan pemantauan ulang kondisi cuaca setiap hari melalui portal Badan Meterorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk selanjutnya menyebarluaskan hasil pantauan kepada pengguna jasa dan menempelkannya di terminal penumpang.

"Bila kondisi cuaca membahayakan keselamatan, maka pemberian Surat Persetujuan Berlayar (SPB) agar ditunda hingga kondisi cuaca di wilayah yang akan dilayari benar-benar aman," ujarnya.

Sedangkan untuk operator kapal khususnya nakhoda, Marwansyah meminta untuk dilakukan pemantauan cuaca sekurang-kurangnya enam jam sebelum berlayar untuk selanjutnya melaporkan kepada syahbandar guna mengajukan permohonan SPB.

Lebih lanjut Marwansyah menyebutkan, saat dalam pelayaran, nakhoda juga harus melaporkan kondisi cuaca minimal enam jam sekali dan melaporkan kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) terdekat dan dicatatkan dalam log book.

"Bila kapal mendadak menghadapi cuaca buruk, maka nakhoda segera melayari kapalnya ke tempat yang lebih aman dengan ketentuan kapal dalam kondisi siap digerakkan," kata Marwansyah.

Setelah berlindung, katanya, nakhoda kapal wajib melaporkan ke Syahbandar dan SROP terdekat dengan menginformasikan posisi kapal dengan jelas.

Sementara itu, proyeksi yang dirilis Stasiun BMKG Teluk Bayur Padang, gelombang dengan ketinggian 1 hingga 3 meter berpotensi terjadi di perairan barat Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Selatan, dan Pulau Enggano. Sementara gelombang dengan ketinggian 2 hingga 3 meter berpotensi muncul di daerah Samudra Hindia Barat Kepulauan Mentawai hingga Samudra Hindia Barat Bengkulu.(kt12)





comments powered by Disqus

 
   
About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved