Bom Jakarta, Ada Proses Radikalisasi di Penjara
Minggu, 17/01/2016 - 07:54:21 WIB
<br>

JAKARTA-Pihak kepolisian menyebut dua orang dari lima pelaku teror bom di kawasan Sarinah Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat Kamis 14 Januari 2016. adalah residivis. Satu yang sudah santer disebut adalah Afif alias Sunakim yang pernah divonis penjara selama tujuh tahun atas kasus pelatihan terorisme di Aceh.

Pengamat Terorisme dan Negara Islam UIN Syarif Hidayatullah menilai perekrutan teroris dari dalam penjara adalah kegagalan dari program deradikalisasi dari Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Penjara justru menjadi tempat untuk memproduksi teroris. Hal ini terbukti puluhan dari residivis tersebut kembali lagi menjadi teroris.

"Ada kebijakan dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris) dan pemerintah yang sering dipersoalkan terutama dalam hal deradikalisasi di dalam penjara dan rehabilitasi di luar penjara. Program ini penting. Selama BNPT terbentuk itu kurang berjalan dengan maksimal. Sehingga yang di penjara yang terjadi justru proses radikalisasi, katanya seperti dilansir okezone, Sabtu (16/1/2016).

Di dalam lapas yang terjadi malah perekrutan teroris yang masih muda. Mereka dikumpulkan dengan teroris senior yakni para ideolog atau pemimpin.

"Sehingga bukannya semakin sadar, di penjara justru memproduksi ideologi yang lebih radikal. Kapasitas dari lapas juga terbatas untuk memisah teroris dalam level ideologinya. Itu tidak berjalan. Sehingga seringkali ada puluhan teroris yang pernah masuk penjara dan setelah keluar mereka terlibat dengan gerakan yang lebih radikal lagi," terangnya.

Berdasarkan data penelitian dari Australia, lanjut Zaki ada sekitar 20 orang teroris yang pernah di penjara balik lagi menjadi teroris.

"Contoh seperti Dulmatin, Air Setyawan yang tewas 2010 lalu, selanjutnya Urwah alias Pranoto yang tewas tertembak , dan Abu Tholut yang masih hidup. Beberapa sudah meninggal. Penelitian dari Australi menemukan ada sekitar 20 yang balik menjadi teroris lagi," katanya.

Proses deradikalisasi menurutnya menjadi titik kritis dalam memasyarakatkan kembali teroris. Namun program ini dinilai telah gagal.

"Terbukti ada puluhan teroris dan ini diakui oleh BNPT sendiri dimana setelah dia (residivis teroris) keluar dari lapas kembali ke gerakan radikal. Tidak hanya itu termasuk petugas lapas sendiri banyak yang terlibat gerakan radikal misalnya di Lapas Kerobokan di Bali ada petugas lapas yang membantu Imam Samudra menyelundupkan laptop. Justru itu yang terjadi dan sampai sekarang belum ada perubahan," pungkasnya.(kt5)




comments powered by Disqus

 
   
About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved