Harga Saham Freeport Dinilai Kemahalan
Sabtu, 16/01/2016 - 23:51:58 WIB
<br>

JAKARTA - Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) sepakat dengan pernyataan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli yang menyebut harga saham yang ditawarkan PT Freeport Indonesia atas pelepasan saham sebesar 10,64 persen untuk kewajiban divestasinya di Indonesia terlalu mahal.

Freeport Indonesia menawarkan sahamnya 10,64 persen ke pemerintah Indonesia dengan nilai USD1,7 miliar atau setara Rp23,5 triliun (dengan kurs Rp13.800 per USD). Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 tahun 2014, Freeport diminta melepaskan sahamnya sebesar 10,64 persen.

Ketua Working Group Kebijakan Publik Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Budi Santoso menjelaskan, mahalnya saham Freeport yang ditawarkan ke pemerintah Indonesia berdasarkan perhitungan saham yang dihitung dari nilai aset dan keuntungan Freeport beberapa tahun belakang terakhir.

Budi mengungkapkan, pada 2014, aset Freeport Indonesia mencapai USD9,1 miliar dengan keuntungan bersih hanya mencapai USD500 juta per tahun. Keuntungan bersih Freeport pun turun jika dibandingkan 2013 yang sebesar USD784 juta.

"Artinya apa, dari sisi perusahaan lima tahun kedepan, enggak mungkin Freeport keuntungannya berlipat-lipat kan," ucap Budi kepada Okezone, Jakarta.

Budi menambahkan, dengan melihat perhitungan tersebut, maka portfolio saham Freeport hingga berakhirnya kontrak karya pada 2021 tidak sampai USD16,2 miliar seperti yang dikatakan Freeport Indonesia. Jika dihitung, harga 100 persen saham Freeport diperkirakan hanya sekira USD11,6 miliar.

"Kalau 10,64 persen nilainya USD1,7 miliar itu kan USD16,2 miliar. Tapi kalau asetnya sekarang USD9,1 miliar, terus ditambahkan keuntungannya sama USD500 di kali lima kan jadi USD2,5 miliar Jadinya paling USD11,6 miliar," tegas Budi.

Lanjut Budi menjelaskan, penurunan harga saham Freeport ini, lantaran juga didukung anjloknya harga komoditas seperti emas, batu bara. Apalagi, Freeport masuk kedalam konstruksi dan dalam rangka development, sehingga membuat produksinya tuurn.

"Jadi harga yang ditawarkan terlalu mahal. Harusnya dibawah USD1,7 miliar. Seharusnya itu totalnya USD11,6 miliar, bukan USD16,2 miliar," paparnya.

"Makanya pak Rizal Ramli bilang harganya kemahalan, itu dasarnya apa," tukas Budi dilansir okezone.com.(kt12)





comments powered by Disqus

 
   
About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved