Akhiri Kemiskinan Lewat Perbaikan Gizi
Jumat, 12/04/2019 - 00:35:14 WIB

Katariau.com I Jakarta-Pemenuhan gizi menurut Dr. Dida A. Gurnida. Dr.Sp.A(K). M.Kes, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, dimulai sejak seseorang berada di dalam kandungan ibunya. Perbaikan gizi yang benar akan menciptakan generasi milenial yang  lebih sehat, kuat, trengginas dan mumpuni untuk membangun negeri.

Kekurangan gizi atau malnutrisi berdampak buruk pada pertumbuhan dan kesehatan tubuh manusia. Setiap zat mengandung manfaat yang mendukung pertumbuhan dan menjaga kesehatan tubuh. Pemenuhan gizi sangat penting dalam hidup manusia. Sejatinya, perbaikan gizi juga menjadi bagian dari upaya untuk mengakhiri kemiskinan di Indonesia. Sebab, dengan perbaikan gizi yang benar akan menciptakan generasi milenial yang  lebih sehat, kuat, trengginas dan mumpuni untuk membangun negeri.

"Salah satu solusinya mungkin  pembangunan nasional jangka panjang. Maka yang harus dipersiapkan saat ini jangan sampai ada rakyat kelaparan. Rakyat harus terpenuhi kebutuhannya.  Baru setelah itu berupaya keras untuk meningkatkan gizi rakyat. Utamanya balita dan anak-anak,"  kata Dr. Dida A. Gurnida. Dr.Sp.A(K). M.Kes, dari IDAI  (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Jawa Barat.

Dijelaskan dr Dida lagi,  soal nutrisi, tantangan  yang dihadapi memang begitu banyak. Salah satunya adalah lingkungan dan tingkat pengetahuan masyarakat itu sendiri.

"Misalnya keadaan stunting di Bandung dan di Papua itu kan berbeda. Di Papua banyak stunting karena airnya banyak mengandung kapur. Sementara di Bandung karena mungkin ibu bapaknya tidak memperhatikan anaknya atau karena memang kurang mampu," ujar Dida. Karenanya, lanjutnya, penanganan stunting disetiap daerah di Indonesia jelas berbeda.

Sementara itu, Ketua Umum YAICI, Arif Hidayat menegaskan yang harus diprioritaskan adalah peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi anak. Bukan iklan televisi.

"Sebagian besar informasi yang sampai kepada orang tua dari televisi. Kita tahu, isi tayangan televisi terutama iklan adalah jualan dan promosi produk. Iklan juga bisa menyesatkan," jelas Arif.

Arif  mencontohkan, salah satunya  adalah polemik susu kental manis. Selama puluhan tahun susu kental manis diiklankan sebagai susu bergizi. Akibatnya masyarakat beranggapan bahwa susu kental manis juga dapat dikonsumsi sebagai susu oleh anak-anak.

"Jadi wajar kalau ibu dalam ingatannya SKM adalah susu karena selama ini selalu menampilkan anak- anak dalam iklannya. Padahal kandungannya adalah gula. Sekitar 50% malah lebih kandungan gulanya," urai Arif.

Senada dengan Arif, Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes mengatakan,  edukasi sejak dini yang diperlukan untuk menghindari kekeliruan konsumen dalam memanfaatkan suatu produk.

"Pembangunan nasional harus dimulai dari calon ibu yang akan melahirkan generasi masa mendatang. Calon ibu harus sehat, jangan sampai anemia. Selain itu harus punya pengetahuan tentang gizi
keluarga," ujar Chairunnisa.

Chairunnisa menambahkan, PP Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang besar turut berkomitmen untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya adalah ikut serta dalam edukasi bijak mengkonsumsi susu kental manis bersama Yayasan Abhipraya Insan Cindekia Indonesia (YAICI). Edukasi akan dilaksanakan disejumlah kota di Indonesia. (Ismail)





comments powered by Disqus

 
   
About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved