Advertorial Pemprov Riau
Provinsi Riau Siapkan Langkah Strategis Hadapi MEA
Jumat, 30/11/2015 - 13:19:22 WIB
<font size="2"><b>Plt Gubri H Arsyadjuliandi Rachman berbincang-bincang di sela-sela acara Sosialisasi Peluang dan Tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 yang diselenggarakan oleh Kemenko Perekonomian, Rabu (4/11/2015) di Jakarta.</b></font>
Plt Gubri H Arsyadjuliandi Rachman berbincang-bincang di sela-sela acara Sosialisasi Peluang dan Tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 yang diselenggarakan oleh Kemenko Perekonomian, Rabu (4/11/2015) di Jakarta.

ASEAN kini memiliki babak baru, sepuluh negara yang ada di kawasan Asia Tenggara ini akan terintegrasi dalam satu komunitas yang disebut  The ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), di penghujung tahun 2015.

Pemerintah Provinsi Riau pun telah bersiap menghadapi MEA. Persiapan dilakukan agar Provinsi Riau tidak ketinggalan dari provinsi lainnya.

Pasar Bebas Asean Tahun 2015 ini akan membuka jalan untuk investor dan pekerja dari negara lain memasuki negara Indonesia dan begitu sebaliknya.

"Pemerintah Provinsi Riau juga turut berbenah diri untuk menghadapi pasar bebas Asean, salah satunya dari sektor pertanian, sektor Migas, Sumber Daya Manusia dan sektor hilir. Semua sektor harus ditingkatkan," kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, belum lama ini.

Tak kalah pentingnya, ujar Arsyadjuliandi Rachman yang disapa dengan panggilan Andi Rachman, membentuk sumber daya manusia yang profesional, sehingga berdaya saing dalam menghadapi pasar bebas. "Diharapkan para profesional tak mudah tergiur untuk bekerja ke luar negeri," kata Andi.

Siapkan Wisata Budaya dan Olah Raga
Pemerintah Provinsi Riau membuat terobosan pengembangan desa wisata budaya dan olah raga di seluruh wilayah sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang baru.

"Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) jadi potensi kunjungan yang besar ke Riau," kata Penjabat Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman di Pekanbaru, Rabu (4/11/2015).

Ia menjelaskan pemberlakuan MEA maka ada kebebasan aliran barang, jasa, bahkan orang ke Riau. Potensi itu harus ditangkap menjadi peluang baru sumber PAD.

Apalagi, menurut Andi, Riau memiliki budaya dan alam yang unik untuk dikembangkan menjadi obyek wisata budaya dan olah raga.

"Makanya ke depan pelan-pelan kami kerjakan dan tata," katanya.

Menurut Andi, pihaknya akan mendorong setiap desa di Riau bangkit menggali potensi wisata yang mereka miliki menjadi nilai jual bagi wisatawan.


"Kalau selama ini Riau sudah terkenal oleh minyak dan gas serta kelapa sawitnya, mengapa tidak ke depan akan lebih terkenal lagi dengan wisata budaya, religius, dan olah raganya," katanya.

Sejumlah obyek wisata di Riau yang layak dijual, antara lain Istana Siak dan Candi Muara Takus.

Sedangkan wisata olah raga, seperti Bono dan Pacu Jalur serta olah raga bersepeda yang bisa digali dan ditata agar memiliki daya tarik.

"Jadi mari setiap desa, kelurahan, kabupaten hingga kota, kita semangatkan potensi wisata demi meraup pendapatan baru," kata Andi.

Andi juga memprediksi jumlah wisatawan yang akan datang ke Riau cukup besar seiring dibukanya perdagangan MEA.

Seiring dengan kunjungan wisatawan yang meningkat, lanjut Andi, secara tidak langsung perekonomian Riau akan berkembang dan bermunculan pusat kuliner serta perdagangan cendera mata, perhotelan, dan transportasi juga akan bergairah.

"Bayangkan kalau MEA berlangsung diperkirakan akan ada 50 juta lebih orang akan masuk ke Riau," tambah Andi.

Hadiri Sosialisasi
Dalam menghadapi Peluang dan tantangan MEA tahun 2015, Pelaksanaan Tugas (Plt) Gubernur Riau H. Arsyadjuliandi Rachman menghadiri program acara Sosialisasi Implementasi Masyarakat Ekonomi Asean yang diselenggarakan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian  RI, Darmin Nasution, di hotel Borobudur Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2015).

Mengusung tema "Peluang dan Tantangan" kegiatan ini dibuka oleh Menko Bidang Perekonomian RI, Darmin Nasution dan dihadiri  Kepala Daerah dan Kepala SKPD se-Indonesia, Kadin, Civitas Akademika, Pejabat Lembaga dan Kementrian RI, Otoritas Jasa Keuangan, Perwakilan Bank Indonesia dan Nara sumber dari 7 negara anggota Asean.

Plt Gubri hadiri Sosialisasi Implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN di Hotel Borobudur Jakarta.

Menurut Darmin, dalam mempersiapkan tantangan ini pemerintah pusat dan daerah harus terus melakukan evaluasi untuk menghasilkan kebijakan tentang ekonomi dengan kajian-kajian Akademisi untuk menjadikan lebih baik. Selain itu mekanisme SDM juga harus terus dikembangkan dengan pelatihan yang memiliki standard kompetensi yang jelas dengan adanya sertifikasi.

"Saya harapkan semua pemangku kepentingan memiliki kesadaran dan persepsi yang sama terhadap peluang dan tantangan yang tidak hanya dihadapi tetapi juga dilalui serta manfaatnya bagi Indonesia. Melalui kegiatan ini kita semua memiliki kesadaran mental, untuk melalui tantangan dalam menghadapi masyarakat Ekonomi Asean," ungkap Darmin.

Menurut rencana MEA akan mulai berlaku di penghujung tahun 2015 ini, tepatnya 31 Desember 2015. MEA adalah suatu kerjasama regional Asia Tenggara di bidang ekonomi yang ditransformasi menjadi kesatuan kekuatan baik sebagai pasar tunggal maupun pusat produksi. Tujuannya adalah, menjadikan Asean menjadi kawasan dengan ekonomi yang berdaya saing disertai pertumbuhan yang lebih setara di seluruh negara anggotanya dan terintergrasi dengan lebih baik dengan pasar global.

Dalam kesempatan ini Plt Gubri mengatakan, masyarakat Ekonomi Asean terdiri dari 4 Pilar yang terkait satu dengan lainnya yaitu:  Pasar tunggal dan berbasis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing, pembangunan ekonomi yang merata dan Integrasi dengan ekonomi global.

"MEA 2015 merupakan sebuah proses, bukan sebuah event. Setelah 2015, yang merupakan target politik pemimpin Asean, proses integrasi Asean tidak akan terhenti namun justru akan semakin intensif. Proses tersebut pada intinya akan membuat Asean menjadi semakin atraktif, berdaya saing tinggi dan efektif sehingga dapat senantiasa relevan dalam persaingan ekonomi global," papar Plt Gubri.


Beberapa hari sebelumnya, dalam Rakor Camat  se-Provinsi Riau, Plt Gubri mensosialisasikan kepada para Camat yang hadir bahwa dalam menghadapi tantangan MEA, Provinsi Riau akan mengembangkan dan mempromosikan wisata barbasis budaya.

Menurut Plt Gubri, wisata berbasis budaya punya pengaruh dan peranan penting untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, terutama saat proses MEA ini berjalan.

"Riau punya potensi wisata budaya yang menarik, Pemprov Riau telah menganggarkan dana APBD melalui dinas terkait untuk mengembangkan objek wisata dan meningkatkan infrastruktur pendukungnya untuk mewujudkan Riau the Homeland of Melayu serta menjadi pusat budaya Melayu di Asean sesuai visi Riau 2020," ujar Plt Gubri ketika itu.

Kesiapan Indonesia dalam menyongsong MEA 2015 telah mendapat komitmen yang tinggi dari Presiden RI, yakni dengan dikeluarkanya serangkaian instrumen kebijakan sebagai acuan para kementrian dan lembaga serta pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainya untuk bersinergi dalam meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi MEA 2015.

Tantangan dan Peluang MEA
Menurut data Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI, ada beberapa sektor tantangan dan Peluang Indonesia dalam MEA 2015 diantaranya;

INFRASTRUKTUR
Untuk infrastruktur kelemahan mengemuka dikarenakan oleh beberapa hal seperti, belum semua kapasitas bandara mampu melayani lonjakan penumpang, terbatasnya anggaran dalam pembangunan infrastruktur daerah, kurangnya konektivitas provinsi dan pulau, minimnya konektivitas antar Negara dalam kerjasama sub regional, kurangnya ketersediaan pasokan energi dan listrik, dan minimnya peran swasta pengembangan infrastructure seperti melalui skema Publik Private partnership (PPP).

Namun demikian, Peluang dalam Bidang infrastruktur pun tetap terbuka dan dapat dimanfaatkan bersama. Sebagaimana telah ditetapkan dalam RPJM 2015-2019,  Pemerintah Indonesia akan membangun infrastruktur yang dipastikan akan mempercepat upaya peningkatan daya saing nasional. Di antaranya yaitu; transportasi massal yang terintergrasi di 6 kota besar di Indonesia, pembangunan tol laut dan pembangunan 24 pelabuhan, pembangkit tenaga listrik 35.000 Mega Watt, Reformasi pembebasan lahan dan oprasionalisasi pelayanan satu pintu.

Plt Gubri hadiri Sosialisasi Implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN di Hotel Borobudur Jakarta.

KEBIJAKAN PEMERINTAH
Pada tataran pemerintah misalnya, sudah cukup banyak regulasi yang dikeluarkan untuk menyokong upaya tersebut, diantaranya dengan dikeluarkanya inpres No.5/2008 tentang fokus program ekonomi, inpres No.11/2011 tentang pelaksanaan cetak biru MEA, program pembangunan MP3EI, Inpres No.6/2014 tentang peningkatan daya saing nasional dalam rangka menghadapi MEA.

SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)
Dari sisi internal terdapat pula kelemahan di sektor SDM, diantaranya banyaknya tenaga kerja yang belum bersertifikasi, banyak tenaga kerja yang berpendidikan dan berketrampilan rendah, pengetahuan dan prosedur sertifikasi masih minim, dan biaya sertifikasi yang cendrung mahal.

DAYA SAING PRODUK UNGGULAN
Dari sisi produk unggulan, kelemahannya seperti penggunaan teknologi masih minim, masih kurangnya promosi produk terutama produk-produk UKM, pengusaha masih tergantung pada komoditas primer atau produksi produk dengan nilai tambah kecil, hanya berorientasi pada pasar domestik, minimnya pengetahuan pengusaha akan peluang Asean, cendrung memilih jadi importir dari pada produsen, dan daya saing usaha di sektor jasa yang masih tertinggal dan adanya kesamaan produk unggulan dengan beberapa Negara tetangga, pesaing memiliki teknologi yang lebih canggih.

KOORDINASI PEMERINTAH PUSAT-DAERAH
Kelemahan dan ancaman pun menjadi warna dalam area koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Adapun faktor kelemahan diantaranya seperti, peran provinsi belum optimal dan merata di era otonomi daerah, pendelegasian kewenangan antara pusat dan daerah belum optimal, pengawasan sumber daya alam belum maksimal, belum optimalnya pengetahuan akan kesepakatan internasional, masalah perizinan usaha yang tidak singkron antara pusat dan daerah serta kewenangan yang dipegang oleh pejabat inkompeten.

Andalkan Kawasan Pesisir
Menghadapi MEA ini, Pemerintah Provinsi Riau bersiap. Seperti yang disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman beberapa waktu lalu. Dia katakan, kawasan pesisir menjadi kawasan yang strategis untuk menyambut MEA 2015 mendatang.

Apalagi di sebagian besar wilayah pesisir Riau berdekatan dengan negara tetangga. Maka, memperkuat SDM di wilayah pesisir ialah strategi yang sudah diperkirakan Riau.

"Memikirkan kawasan pesisir sudah menjadi strategi Pemerintah Provinsi Riau. Terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean nanti," kata Arsyadjuliandi Rachman.

Sebanyak 70 pulau tersebar di wilayah Riau. Dan beberapa dari pulau itu merupakan yang terbesar, seperti Kepuluaan Meranti dan Bengkalis.

Diungkapkan Plt Gubernur Riau, Pemerintah Pusat memiliki program poros maritim yang nantinya akan memberikan peluang besar dalam membangun pulau-pulau yang ada di Provinsi Riau, yang sedianya masuk dalam poros maritim nasional.

"Apalagi garis maritim nasional itu sangat dekat dengan daerah ini, salah satunya titik Selat Malaka," tambahnya lagi. (Adv)





comments powered by Disqus

 
   
About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved