Kemenag Imbau Shalat Gerhana 31 Januari
Selasa, 30/01/2018 - 14:25:34 WIB
Ahmad Supardi Hasibuan, Kepala Kanwil Kemenag Riau
Ahmad Supardi Hasibuan, Kepala Kanwil Kemenag Riau

PEKANBARU-Kepala Kanwil Kemenag Riau, Ahmad Supardi Hasibuan, mengimbau umat Muslim di daerah itu untuk melaksanakan shalat khusuf terkait akan terjadinya Gerhana Bulan Total (GBT) pada 31 Januari 2018 .

"Untuk menyambut  GBT itu maka Badan Pengelola Masjid Raya  An-nur Pekanbaru, diimbau untuk  mempersiapkan sarana dan prasana untuk melaksanakan Shalat Gerhana atau Salat Khusuf,"kata Ahmad Supardi di Pekanbaru,seperti dilansir republika, kemarin.

Ajakan tersebut disampaikan menindaklanjuti surat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI No. B155/DT.III.1/HM.01/01/2018, pada 17 Januari 2018 tentang imbauan melakukan shalat gerhana bulan. Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin menjelaskan bahwa hampir seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati GBT ini.

Menurut Ahmad Supardi, surat Dirjen Bimas Islam tersebut sekaligus menginstruksikan Kepala Bidang Urusan Agama Islam/Kepala Bidang Bimas Islam/Pembimbing Syariah, Kepala Kemenag Kabupaten/Kota, dan Kepala KUA untuk bersama para ulama, pimpinan ormas Islam, imam masjid, aparatur pemerintah daerah dan masyarakat untuk melaksanakan Shalat Gerhana Bulan Parsial di wilayahnya masing-masing.

"Pelaksanaan shalat gerhana tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya masing-masing,"katanya.

Menurut Ahmad, pihaknya juga sudah mengimbau Badan Pengelola Masjid Raya An-nur, agar menyerukan umat muslim di daerah itu untuk melaksanakan shalat Gerhana.

Ia mengatakan awal gerhana bulan total diperkirakan terjadi pukul 18.48.27 WIB, sedangkan puncak gerhana bulan total pada pukul 20.29.50 WIB, dan akhir gerhana bulan total pada pukul 22.11.11 WIB.

"Dalam hal ini tata cara shalat gerhana bulan adalah berniat di dalam hati, takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa, membaca doa iftitah dan bertaawudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang seperti surat Al Baqarah sambil dijaharkan atau dikeraskan suaranya, bukan lirih," katanya.

Berikutnya adalah, ruku' sambil memanjangkannya, kemudian bangkit dari ruku' (i'tidal) sambil mengucapkan, Sami'allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamdu.  Setelah i'tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang.

Berdiri kedua lebih singkat dari yang pertama, kemudian ruku' kembali (ruku' kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku' sebelumnya, kemudian bangkit dari ruku' (i'tidal), lalu sujud yang panjangnya sebagaimana ruku', lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.

"Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka'at kedua sebagaimana raka'at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya, dan terakhir, salam," katanya.

Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama'ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo'a, beristighfar, dan bersedekah.

Ia menjelaskan, faidah dan hikmah terjadinya gerhana diantaranya adalah merupakan sebuah pemberitahuan bahwa sedang terjadi pengaturan matahari dan bulan dimana keduanya adalah benda yang sangat besar.  Peralihan pada bulan dan matahari akan menampakkan perubahan kondisi atau keadaan setelah terjadinya gerhana.

"Shalat dilaksanakan akan berfaedah  membuat hati yang semula menyepelekan kelalaian menjadi lebih gelisah dan tergugah. Umat manusia bisa melihat contoh salah satu peristiwa yang akan terjadi pada saat hari kiamat nanti.  Allah SWT berkuasa untuk menggerakkan benda yang maha besar sehingga terjadi gerhana," katanya.(kt5)




comments powered by Disqus

 
   
About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved