Indonesia Membangun dengan Gaya Neo Modern

Senin, 29/12/2014 - 09:17:54 WIB
Oleh :Hendra Naldi*

Tahun 2014 sebentar lagi akan dilewati bangsa ini, semuaya masih tetap sama. Satu tahun ini kita mendapatkan Presiden baru, dengan wajah Wong Cilik. Namun gaya pemerintahannya masih tetap dengan pola Neo Modern, sebuah pemutar balikkan teori. Satu tahun yang lalu masyarakat Indonesia masih berbicara kemiskinan, masih bicara korupsi, dan masih bicara ketergantungan dengan Asing. Belum ada yang berubah, dalam catatan dari berbagai media yang ada masyarakat masih bak air dan minyak dengan pemerintah.

Tahun ini peristiwa Pemilu adalah yang paling sensasional, paling melalahkan dan hampir menciderai arti kebangsaan dengan polarisasi yang tajam. Satu pembelajaran politik yang mahal. Namun Pemilu itu juga sekaligus membuktikan sesungguhnya bangsa ini bisa menjadi demokratis, asal jangan diciderai oleh kepentingan sepihak yang merugikan. Mereka cukup cerdas dalam memilih. Tidak ada yang menang dan kalah dalam peristiwa itu, karena sesunguhnya pemenang yang abadi adalah bangsa ini sendiri. Masyarakat Indonesia telah memenangkan proses untuk menjadi besar dengan baik. terpilihnya pemerintahan baru, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya adalah realita bangsa ini.   Kita sebaiknya nikmati dulu gaya seperti saat ini.

Selesai sudah episode hujatan antar kelompok, selesai sudah dikotomi, dan selesai sudah kecurigaan antar In Groub. Karena secara Nasionalis kita harus paham bangsa Indonesia perlu untuk maju. Tantangan besar dalam kehidupan dunia hari ini harus dipikul bangsa  secara bersama sama. Sikap Gotong Royong adalah hakekat mutlak diatas semuanya. Pemerintah yang baru saya kira semakin terbuka untuk melebur dengan segenap kelompok yang berseberangan dengan mereka, dan sebaliknya bagi yang kemarin berbeda silahkan lah untuk meleburkan diri untuk kepentingan bersama.

Dalam teori pembangunan Paradigma memang sebuah pilihan, namun pemerintahan Jokowi-Jk  telah memilih, Gaya khas yang sumbernya masih Neo modernis yang mereka pakai silahkanlah jalankan, namun ingat lakukanlah itu untuk kepentingan nasional, untuk bangsa. Silahkan tunjukkan pada kelompok yang berbeda paradigma dengan pemerintahan bahwa semua yang dilakukan  adalah untuk rakyat. Kepentingan politik kelompok sebaiknya dibuang jauh jauh di pemerintahan . Karena bangsa ini butuh pembangunan secara tepat dan cepat. Kritikan silahkan terus berjalan, namun pembangunan harus juga selalu di kejar. Memang harus diakui setiap pilihan model pembangunan memiliki kelemahan kelemahannya, namun itu juga tidak menutup segala kelebihannya. Kami rakyat menunggu kelebihan itu

Ingat konsistensi...
.
Pembangunan bukan sebuah Revolusi yang mematikan sesuatu yang lama, saya kira pemerintah tahu itu. Meskipun jargonnya Revolusi Mental, namun melihat teori pembangunan yang mereka pakai marilah kita  yakini mereka lebih mengutamakan Transformasi. Karena pemimpin yang terdahulu terlepas pula dari kelebihan dan kekurangannya sudah bekerja semaksimal mungkin. Sudah selayaknya tidak semuanya main "tebas" yang berdampak pada Inkonsistensi yang membahayakan negara. Meskipun pemerintahan Jokowi hari ini memakai banyak istilah baru dengan segala Kartu Saktinya, menurut pandangan sederhana saja semuanya masih dalam koridor konsistensi. Tinggal menyesuaikan  saja dengan program lama, yang sudah juga berjalan.

Silahkanlah bangun Maritim sebagai jargon pembangunan , namun jangan lupa bahwa negara Indonesia meskipun berbentuk kepulauan, namun watak khasnya adalah masyarakat agraris. Trade Record ini harus tetap menjadi pilihan utama pemerintahan hari ini. Arti kata, pertanian adalah salah satu roh pembangunan Indonesia zaman Pak Jokowi. Konsistensi juga diharapkan dalam pembangunan pendidikan. Bangsa ini sebetulnya tidak butuh sistem baru dalam pendidikan, karena apapun bentuknya kalau isinya itu juga tidak akan menghasilkan sesuatu yang baru. Sektor Pendidikan sesungguhnya butuh perbaikan mentalitas saja, mereka butuh terobosan transformasi mental yang tepat guna dalam dunia pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan seharusnya ditunjang oleh kemauan pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraan , sudah biasa dalam dunia modern, tidak akan ada yang namanya keunggulan apabila model pembangunannya masih cara amatiran. Hilangkanlah "kongkalingkong" dalam proyek pendidikan, dan kalau itu berhasil pendidikan yang bermutu akan tercipta dengan sendirinya.

Dalam dunia hukum juga seperti itu, silahkanlah bekerja, rakyat butuh bukti penegakan hukum yang adil, bermartabat dan jauh dari kepentingan apapun juga. Praktek Korup, suap dan vested interes yang selalu mewarnai hukum kita seharusnya menjadi bidikan utama pemerintah untuk diberantas. Ingat hari ini krediilitas penegak hukum masih dipertanyakan, bahkan KPK itupun sendiri tidak luput dari pertanyaan masyarakat, Rakyat butuh KPK, namun rakyat butuh ketepatan dan keobjektivitasan para komisioner itu. Pernyataan ditengah masyarakat bahwa penegak hukum "tebang pilih" masih terdengar, bahkan itu juga dalam lingkup KPK itu, sudahlah jangan terlalu memuji KPK meskipun mereka juga layak di apresiasi.

Media massa sebaiknya juga mencerdaskan, udahlah Move on lah lagi dari segala keinginan bentuk pencitraan. Masyarakat tidak butuh itu lagi. Silahkan saja bekerja, dan silahkanlah Media untuk selalu megawal pembangunan, dan bukan malah "menjilad" dengan pemerintahan itu sendiri. Kembalilah media massa sebagai alat pilar demokrasi yang sehat di negara ini. Masyarakat butuh informasi cerdas bukan pembodohan, bukan kepura puraan dengan menguntai perasaan yang dibuat buat. udahlah silahkanlah buat program baru yang sifatnya pencerdasan, kami tidak ingin kembali ke zaman Orde Baru, yang semuanya sudah diatur oleh media massa pemerintah.

Ingat Kebersamaan

Dalam dunia yang serba cepat hari ini, tidak ada yang namanya dominasi. Jikalau dominsasi juga yang akan dicapai makanya Indonesia tidak akan pernah maju maju. Kapan kita akan mendengar negara Indonesia tumbuh menjadi negara Modern baru. Sudahlah masyarakat sudah capek dengan status negara pembangunan terus. Kita harus menatap ke depan dengan penuh optimistis. Negara ini perlu membangun secara bersama sama, dengan  hakikat gotong royong sebagai karakter bangsa. Tidak ada kekalahan  dalam mengakui untuk ikut bersama dalam bingkai pembangunan.  Boleh berbeda dalam mengambil posisi dalam pembangunan namun perbedaan itu berada dalam koridor yang sama yaitu rasa kebangsaaan yang dalam. Jangan kritik hanya untuk sekedar menjatuhkan lawan, karena sesungguhnya tidak ada lawan dalam menuuju Indonesia yang Modern. Karena bangsa ini butuh kebersamaan........

Terakhir selamat untuk menuju tahun yang baru, marilah melangkah bersama untuk lebih baik lagi di tahun yang akan datang. Kaleidoskop ini bukan sebuah cacian untuk kondisi hari ini.. Karena tulisan ini merupakan sebuah cerminan, bahwa tahun besok Rakyat Indonesia harus lebih rapi lagi berbenah, lebih kompak lagi berjuang, dan lebih tajam lagi dan hati hati lagi dalam bertindak, dan yang paling penting tidak satu jengkal-pun wilayah ini yang tergadai dan terjual... itu yang terpenting. Sangat hinalah pemerintahan jikalau kerjaan nya menggadaikan dan menjual negara. Namun saya yakin itu hanya cerita burung.... Pemerintahan akan selalu bekerja, pengamat akan selalu mengkritisi, Badan badan tinggi negara bekerja dalam koridornya. Serta akhirnya selamat atas kejayaan Bangsa Ku INDONESIA**(Tulisan ini juga pernah dimuat di Harian Haluan Sumbar)

*Hendra Naldi adalah staf Pengajar Univesitas Negeri Padang (UNP) dan mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
**





Opini Lainnya :
 
  • Islam dan Politik Keindonesiaan
  • Ketika Kajian Islam Dianggap Lebih Berbahaya Dari Praktek Maksiat
  • Sanksi Kebiri Mampukah Nihilkan Rudapaksa?
  • KPK Baru dan Pemberantasan Korupsi
  • Mengurai Benang Kusut Gafatar
  • Menagih Kontribusi OJK Memajukan Bank Syariah
  • Reposisi HMI, Merumuskan Alternatif; Kritik Subtantif Atas Watak Globalisasi
  • Mengatasi Kemiskinan
  • Akademisi dalam Kasus Lingkungan


  •  
       
    About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
    Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved