Riau Menatap 2015: Membangun dengan Lokal Wisdoom

Minggu, 28/12/2014 - 11:34:49 WIB
oleh : Hendra Naldi*

Riau adalah Propinsi termasuk kaya dalam pendapatan Sumber Daya Alamnya menurut catatan tata ruang Indonesia. Dalam catatan itu Riau menempati Rangking ke tujuh (7) dengan pendapatan aslinya PDB nya sebanyak 97.701.683.19, sebuah angka yang cukup fantastis. dengan menempatkan Kabupaten Siak sebagai Kabupaten terkaya. Namun catatan itu tidak ditunjang oleh beberapa prasyarat yang membuat masyarakat Riau secara umum menjadi lebih baik. Dalam Bisnis.com disebutkan ada enam kelemahan dalam pembangunan  di Riau diantaranya pertama dinamika politik yang cenderung sering mengganggu kelancaran pembangunan itu sendiri, ke dua. Infrastruktur yang sering tidak memadai yang berujung pada kurang meratanya pembangunan. Ketiga, Konflik lahan yang sering menjadi kenyamanan berbisnis terganggu. Ke empat, Ketergantungan Riau akan komoditas dari luar daerah. Kelima. Ketidak jelasan Tata Ruang, dan Ke enam, pelayanan birokrasi yang cenderung berbelit. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi pembangunan Riau.

Kita sama tahu Riau adalah "ladang" bagi pendatang karena hasil alamnya itu. Namun catatan Bisnis.com itu cukup mengganggu, dan apalagi ditambahkan oleh temuan Bapennas bahwa Riau sangat kekurangan tenaga kerja terdidik dan masih banyaknya suku suku terasing. Inilah gambaran Riau, Ironis memang. Lalu dimana salahnya pembangunan di Riau sehingga muncul catatan catatan kekurangan itu? Untuk menjawabnya bisa kita lihat dengan memakai sistem pembangunan Lokal wisdoom. Menurut pandangan Michael R. Dove (1985) pembangunan dalam modernisasi suatu wilayah harus bersumber pada tatanan Tradisional. Inilah yang saya kira banyak terlupakan di Riau.

Lihatlah Riau hari ini, begitu menyedihkan alamnya. Setiap terjadinya musibah asap, maka Riau termasuk daerah yang di hujat. Lalu ketika hasil alamnya yang di eksloitasi, justru masyarakatnya  terpinggirkan. Masyarakat Riau sesungguhnya bukan hanya kaya akan alam, namun juga kaya akan keragaman budayanya. Sudah terkenal dalam catatan sejarah, Riau yang asal namanya diambil dari bahasa Portugis yaitu Rio, artinya banyak sungai adalah daerah rebutan kekuasaan semenjak dahulu. Dalam catatan sejarah bergantian kerajaan kerajaan Melayu menguasai daerah ini. Mulai dari ketenaran Muaro Takuih,dan Siak, sampai bergantiannya pengaruh kerajaan Melayu lain  menguasai daerah ini, seperti Johor, dan Pagaryuang. Begitupun catatan Portugis sampai Belanda mempergunakan daerah ini sebagai wilayah penting karena hasil alamnya itu. Ketika Indonesia Merdeka Riau tetap penting. Sumber daya Alam yang melimpah terutama Minyak dan hasil hutan, telah menjadikan Riau sebagai penyumbang terbesar bagi pendapatan Negara Indonesia. Kondisi yang seperti itu pada suatu waktu pernah membuat Riau ingin merdeka, meskipun itu baru sebuah wacana. Namun ketika alam Reformasi memberi peluang daerah secara ononom, ternyata Riau berbenah dengan hanya menjadikan daerahnya justru kembali jadi lahan rebutan investor asing, dengan tetap involusi (istilah Gertz) menjadikan rakyat sengsara secara umum. Elitte lokal justru berubah menjadi penguasa baru yang seringkali menjadi perpanjangan tangan kepentingan investor. Sementara masyarakat Riau tetap tealienasi dan mereka lupa untuk  mensejahterakan rakyatnya sendiri, semuanya masih menghasilkan kesengsaraan untuk rakyatnya. Makanya realita Riau kekurangan Sumber Daya Manusia, dan Kemiskinan, dan Keterpinggirnya suku suku terasing, Kekaburan  Tata Ruang, Kelambanan Birokrasi menjadi keniscayaan yang harus diterima.

Michael Dove seungguhnya sudah mengingatkan bahwa pembangunan untuk menjadi modernisasi, bukan hanya pembangunan fisik, dan pembangunan yang membumi hanguskan ke Lokalan wilayah tradisional itu. Namun di Riau pembangunan itu justru memiskinkan kebudayaan asli mereka. Keragaman budaya justru terpinggirkan dan diusahakan untuk hilang. Cobalah lihat hari ini, mana masyarakat asli Riau yang bisa berkembang di daerahnya? sulit untuk kita utarakan. Harusnya pembangunan itu diarahkan untuk penguatan masyarakat Riau sendiri, tanpa harus menjadi Etnosentisme. Ini fenomena baru yang unik pula.

Etnosentrisme
Hari ini semuanya harus milik orang Riau asli. Sebuah penyataan yang miris, karena mereka tidak cukup cakap untuk menguasai sumber daya alamnya yang melimpah. Terjadinya praktek kolusi dan korupsi menjadi pemandangan yang harus dilakukan oleh elitte Riau akibat kesalahan dalam mengartikan kebijakan. Ketidak puasan terhadap masa lalu, dan kekurangan modal ketika akan berkuasa dimanfaatkan oleh investor untuk merubah Riau menjadi tidak karuan. Sudah tiga Gubernur Riau terjebak praktek Korupsi, dan itu kesalahan. Membangun dengan menjadikan Riau sebagai "sapi perahan" asing jelas akan menyengsarakan masyarakatnya sendiri, termasuk elitte. Mereka terjebak untuk menjadikan Tata Ruang di Riau itu menjadi tidak jelas. Hutan lindung,  daerah perumahan, dan peladangan masyarakat habis dijadikan sebagai lahan eksploitasi investor. Inilah pembangunan yang teralu berointasi etnis, namun kurang dalam pendayagunaan Sumber Daya.


Penerimaan pegawai negeri Sipil sebuah contoh miris yang lain, dengan modal apa adanya diusahakan putra daerah menjadi PNS di mana mana, lalu terjadilah jegal menjegal, yang tidak perlu. Isyu penggunaan uang menjadi cerita -padahal penerimaan sudah diatur pusat- Masyarakat mengejar untuk menjadi PNS, namun mereka tidak cakap, inilah kesalahan etnosentrisme itu.

Etnosetrisme sesungguhnya penghalang dalam pembangunan. Apabila ini terus dipergunakan di Riau, maka kemajemukan Riau secara budaya akan rusak. Cobalah lihat semenjak dahulu kala di Riau itu sudah menjadi pertemuan bangsa bangsa di Nusantara, lalu siapa yang dikatakan asli, semuanya asli Riau. Mereka berlomba hanya membesarkan daerahnya saja. Dan akibatnya ketika terjadi dinamika politik yang tinggi ujung ujungnya selalu saling jegal dan menjatuhkan satu sama lainnya. Celakanya Etnosentrisme.

Pembangunan Lokal Wisdoom
Riau harus kembali pada basis budayanya. Untuk bisa modern, masyarakat Riau harus mencari kembali pada dasar budayanya. Mereka harus memulai membangun dengan ketahanan budaya yang kental. Dengan memakai ruang budaya akan terlihat ketertiban Riau itu kembali. Coba kita kasih contoh. Secara garis umum di beberapa daerah di Riau masih serumpun dengan budaya Melayu mirip Minangkabau di Sumatera Barat. Dalam tatanan budaya itu, jelas sekali diatur mana daerah yang dipergunakan untuk dieksploitasi, mana untuk hutan, dan mana untuk perumahan. Jalankan lah budaya itu kembali, lalu kuatkan produksi lokalnya dan berpikirlah dengan budaya lokal, maka akan terselamatkanlah daerah itu sendiri.


Begitupun masyarakat terasingnya, jangan diberantas, biarkanlah mereka berkembang dengan budayanya. Pemerintah hanya memberi fasilitas untuk mereka sejahtera menurut keinginan mereka. Mereka punya lokasi berilah ruang untuk itu. Karena secara Budaya justru akan menguntungkan Riau itu sendiri. Begitu-pun masyarakat Melayunya. Mereka juga punya kemampuan untuk menjadi bangsa yang kuat, karena sesungguhnya bangsa Melayu adalah bangsa yang paling mudah beradaptasi, dan paling toleransi. Kondisi ini harusnya menjadi kekuatan di Riau.

Budaya etos yang tertanam secara tradisional dalam mamangan adat sebaiknya dijadikan motto untuk Riau menjadi berkeinginan untuk merubah diri. Percepatan untuk menciptakan tenaga kerja terampil dan daya tahan untuk menjadikan daerahnya tidak sepenuhnya lagi bergantung dari sumber daya Alam mentah. Riau harus punya produksi dengan basis budaya, masyarakatnya harus menghidupkan ekonomi kreatif agar kekuatannya menjadi merata. Dan yang terpenting lagi hematkanlah alam Riau, biarkanlah daerah Hutan kembali menghijau, biarkanlah sungai kembali jernih. Meskipun itu lambat, namun dengan kekuatan Budaya akan mempercepat kelambanan itu.. Mari kita lihat, silahkanlah berbenah,dan selamatkan Riau dari jarahan para Investor asing.

Mudah mudahan catatan kecil ini bukan membuat Riau kecil, namun ini adalah sekedar masukan agar "bumi Lancang Kuning" lebih maju secara hakiki, bukan secara phisik saja. Namun yang terpenting seluruh warga Riau sejahtera dengan tetap mengedapankan Riau adalah daerah Plural, yang perlu mengejar ketertinggalannya. Agar kekayaan daerahnya betul betul membuat masyarakat Riau kaya Raya, kuat serta menjadi modern secara betul, dan akhirnya Indonesia akan menjadi jaya dan sejahtera pula.
Merdeka.....

*Hendra Naldi adalah Staf Pengajar Universitas Negeri Padang (UNP) dan mantan aktivis HMI



Opini Lainnya :
 
  • Islam dan Politik Keindonesiaan
  • Ketika Kajian Islam Dianggap Lebih Berbahaya Dari Praktek Maksiat
  • Sanksi Kebiri Mampukah Nihilkan Rudapaksa?
  • KPK Baru dan Pemberantasan Korupsi
  • Mengurai Benang Kusut Gafatar
  • Menagih Kontribusi OJK Memajukan Bank Syariah
  • Reposisi HMI, Merumuskan Alternatif; Kritik Subtantif Atas Watak Globalisasi
  • Mengatasi Kemiskinan
  • Akademisi dalam Kasus Lingkungan


  •  
       
    About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
    Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved