Dari Aktivis Mahasiswa ke Kampus?: Garis Mundur Gerakan Mahasiswa Indonesia

Rabu, 10/12/2014 - 08:22:48 WIB
oleh Hendra Naldi*

April '98 adalah "hamil tua" dalam gerakan reformasi Indonesia.  Kenangan itu merupakan puncak dari erupsi dahsyat dari gunung es aktivis mahasiswa era Orde Baru. Musim berlalu tingkah polah latah masyarakat Indonesia dalam menangkap perubahan yang dianggapnya menguntungkan akhirnya menjadikan aksi "gaya"demonstrasi mahasiswa Indonesia menjadi model bagi seluruh lapisan masyarakat dalam menyuarakan kepentingannya. Sampai hari ini konflik apapun yang terjadi selalu menyelipkan demonstrasi sebagai bumbu penyedapnya.

Sementara mahasiswa yang mencetus ide demonstrasi dalam membuka ruang perubahan bangsanya mulai perlahan kembali ke kampus. Harapan yang direngkuh dunia kampus alam reformasi akan membuat kampus semakin dewasa dan siap mengawal segala macam bentuk penyimpangan dalam agenda reformasi yang diperjuangkannya. Kondisi dalam alam aktivis mahasiswa yang sarat dengan aroma "Moral Force" ini terus bersemangat hingga 5 tahun pertama alam reformasi. Memasuki 5 tahun berikutnya kampus seperti akan mengarah pada masa alam NKK/BKK dimana mahasiswa diusahakan untuk tidak tertarik lagi menjadi aktivis mahasiswa. Namun mahasiswa dirubah menjadi aktivis kampus. Mahasiswa adalah kelompok manusia pengejar proyek.

Gejala pengejar proyek itu-pun bersambut dengan menjamurnya berbagai kegiatan yang dahulunya sering dilakukan NGO, kemudian masuk ke dalam kampus. kegiatan ini dengan cepat mempergunakan mahasiswa sebagai salah satu partnert dosen untuk menjalankan berbegai kegiatan itu. Akibatnya luar biasa, mahasiswa menjadi ketagihan dan semakin asyik dengan proyek itu dan lupa akan masyarakat yang semakin terpinggirkan dalam arena reformasi ini.

Lima tahun ke dua. Kekuasaan di Indonesia bergerak menuju arah stabil. Kondisi ini juga mulai mempengaruhi alam kampus. Hebatnya situasi kampus menuju otonomi bergerak seolah-olah menjadi pabrik yang harus bergerak mengejar target. Kampus tidak mau berurusan dengan kenakalan mahasiswanya sendiri. Makanya untuk memotong situasi ini kampus berusaha mengkerdilkan mahasiswa dalam sisi aktivis kemahasiswaan. Kondisi ini diperparah dengan input mahasiswa yang juga "terlambat" menjadi dewasa. Karena mahasiswa yang diproduksi pada waktu ini adalah sekumpulan anak manja yang dibesarkan dengan dunia kaku dengan kurikulum yang kaku disekolah. Mereka adalah produk instant dari cara belajar yang instan juga.

Tiga tahun terakhir kampus memperkenalkan Pekan Kegiatan Mahasiswa Baru (PKMB) yang lebih berorientasi akademik. Semua kegiatan mahasiswa murni diurus oleh otoritas kampus. Sementara mahasiswa hanya jadi penonton. Namun lucunya mereka-pun menikmati tontonan intu. Mahasiswa menerima saja apa yang akan digiatkan oleh otoritas. Kegiatan kampus pun mati. Mahasiswa tidak tertatik lagi beraktivitas di kampus. Kampus jadi kering dan hanya disibukkan oleh orang-orang yang sibuk mengejar nilai dan ijazah. Aktivis kampus-pun mulai mati Dan aktivis mahasiswa sudah lama lenyap dan akhirnya kampus-pun tiada, dan yang ada sekarang adalah aktivis sekolah atau "OSIS"**

*Penulis Aadalah Staf Pengajar Sejarah Universitas Negeri Padang dan saat mahasiswa aktif di HMI



Opini Lainnya :
 
  • Islam dan Politik Keindonesiaan
  • Ketika Kajian Islam Dianggap Lebih Berbahaya Dari Praktek Maksiat
  • Sanksi Kebiri Mampukah Nihilkan Rudapaksa?
  • KPK Baru dan Pemberantasan Korupsi
  • Mengurai Benang Kusut Gafatar
  • Menagih Kontribusi OJK Memajukan Bank Syariah
  • Reposisi HMI, Merumuskan Alternatif; Kritik Subtantif Atas Watak Globalisasi
  • Mengatasi Kemiskinan
  • Akademisi dalam Kasus Lingkungan


  •  
       
    About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
    Copyright © 2014-2016 PT. KATA RIAU MEDIA, All Rights Reserved